Posted in Goresan

Jatuh Cinta dengan Manhaj ini

Terlanjur Jatuh Cinta Dengan Manhaj Ini

FB_IMG_1459172930053Aku memiliki banyak teman, dan teman temanku ada dari beberapa harokah. Aku  adalah tipe orang yang berusaha mencari kenyamanan, dan disinilah kenyamanan hatiku berada, ketentraman, ukhuwah, care, rasa sayang dan cinta, serta kekeluargaan yang begitu kental.

Tepat tahun 2009 aku mengenal manhaj ini setelah aku sempat diterpa beberapa fitnah tentang manhaj salaf ini, dari yang mengatakan manhaj salaf ini sholatnya mengenakan batu karbala *padahal itu syiah, dari yang mengatakan seseorang disekolahku bermanhaj salaf dan ia terindikasi sesat, dikata bahwa manhaj ini berlebihan.

Karena saat itu aku masih ikut mentoring, dan aku selalu izin tiap pekannya untuk ikutan kajian salaf kakak seniorku sempat kecewa padaku, ia mengatakan aku telah berbeda berlebihan. Padahal  Sungguh tidak sama sekali aku menemukan keraguan ketika aku mempelajari manhaj salaf ini.

Bermula dari kegemaranku mendengarkan radio sunnah di kota ku, kemudian aku mulai tertarik dan mencari tau. Lalu, alhamdulillah salahsatu rekanku tiba tiba meminjamkan beberapa buku, padahal tidak ku kenal. Ia meminjamkan buku mengenai lembutnya dakwah ahlussunnah serta buku ushul tsalatsah yang membahas tentang tauhid. Darisanalah aku semakin tertarik, aku pelajari, aku minta rekomendasi buku panduan khusus akhawat. Lalu keinginanku untuk mengikuti kajian semakin menggebu.

Aku menghadiri kajian salaf untuk pertama kalinya dengan menggunakan gamis abu dan kerudung sekolah yang hanya menjulur hingga pinggang. Awalnya minder, malu. Masyaa allah akhawat disini hampir semua mengenakan pakaian syari. Tak ada rasa takut dibenakku yang ada hanya terbesit rasa iri

Kapan aku akan sempurna mengenakannya?

Saat itu aku ditemani dengan sahabatku yara, kami duduk tepat dibarisan belakang ikhwan karena kami belom begitu paham bagaimana aturan mainnya. Kemudian ada anak kecil menghampiri sambil teriak teriak.

“ummi, ummi..”

Aku dan yara sontak bingung.

“nyariin ummi, dek?”

Gak lama ummi nya nyamperin, mungkin adek ini terpisah dari ummi nya.

“ay, adek nya pasti bingung ya cari ummi nya. Orang kebanyakan pada pake cadar hehe” kata yara,

“iya yar, aku juga jadi bingung hehe”

Setelah kajian usai, tibalah waktu sholat dzuhur. Alhamdulillah semenjak sekolah aku kemana mana selalu membawa alat sholat, jadi bisa ikut berjamaah dan tidak bingung mencari mukena. Melihat para akhawatnya langsung sholat, semakin merasa iri.

“kapan aku bisa seperti mereka, dengan pakaian syari tak perlu repot lagi untuk sholat. Bukankah islam itu agama yang mudah. Aku yakin suatu saat nanti bisa seperti itu. aamiin.”

Seusai solat, aku segera ke parkiran dan melihat lihat buku siapa tau ada yang sesuai dan pas dikantong. Karena hobby ku membaca, apalagi rasa penansaran akan manhaj salaf ini semakin menggebu maka aku pun membeli beberapa buku untuk aku pelajari.

Masyaa allah, nikmat mana yang akan hamba dustakan yaa Rabb.

Seiring berjalannya waktu aku semakin penasaran, dan memang begitulah siklus nya ketika semangat maka akan dirasa menggebu. kajian demi kajian ku ikuti, meskipun saat itu yang aku ikuti sekedar kajian tematik dan itu pun hanya 1 bulan sekali. karen aku belum tau dimana kajian kitab dan memang tahun tahun itu dakwah salaf belum se-semarak kini. kebanyakan ilmu yang kudapatkan hanya dari mendengarkan radio, membaca buku, sharing tentang fatwa fatwa. tetapi memang rasanya berbeda ketika menimba ilmu tanpa adanya seorang guru karena khawatir akan terjatuh pada syubhat syubhat.

Aku semakin mantap dengan pilihanku, aku berharap semoga kelak bisa terus konsisten dalam kajian. berawal dari keinginanku melanjutkan pendidikan di kota pelajar, dan kudengar disana banyak sekali betebaran majelis ilmu bahkan ada asrama putri nya. namun saat pengumuman hasil qodarullah aku tak masuk pilihan satu, aku masuk pilihan dua sehingga aku melanjutkan pendidikan ku di kota kembang. hmm.. semoga kajian di kota kembang pun semarak.

Setelah berubah status jadi mahasiswa, ada beberapa tawaran opsi mahad khusus putri yang bisa aku tempati. namun qodarullah semua jauh dari kampusku. hingga akhirnya aku berusaha mencari tempat kajian saja meski jauh harus dilewati.

Aku ikut kajian salaf kali pertama di kota bandung yaitu di kampus ITENAS dan Mesji Agung Cimahi. disana aku mengenal beberapa akhawat. kemudian aku mulai mencari lagi kajian yang dekat dengan kampusku. alhamdulillah diperkenalkan dengan kajian rutin kitab di mesjid Al Huda Jatinangor. aaah– tempat itu tidak terlalu jauh, setidaknya aku hanya sekali naik angkot. alhamdulillah itulah kali pertama aku bermajelis di majelis ilmu nya Ust. Yahya Abdul Aziz hafidzahullahu ta’ala dengan kitab tauhid dan Ust. Muh. Rofiq dengan kitab Bulughul marom. kemudian aku mulai kenal dengan akhawat lainnya, aku mulai ikut kajian di cipaganti dengan Ust. Abu Haidar hafidzahullahu ta’ala dengan kitab Riyadhus shalihin. aah masyaa Allah kota kembang ini bikin aku sulit move on. akhirnya aku memutuskan untuk ikut kelas ma’had pekanan dari Udrussunnah Akhawat yang dibimbing oleh Ust. Yahya Abdul Aziz. alhamdulillahiladzi bini’matihi tatimush shalihaat. disini mulailah saya harus fokus, harus mau meluangkan waktu untuk ilmu, harus mau ngangkoters kota bandung karena jarak yang cukup jauh dengan asramaku.

Tapi di mahad mahasiwa ini aku mulai bisa belajar terstruktur, membahas kitab fiqhus sunnah, kitab aqidah washitiyah, kitab tauhid, fiqh nikah, kitab muyyasar, muktraot, durusul lughoh, arab bayyina yadaik. ah masyaa allah nikmatNya.

Tapi sedih itu ketika waktu ku dikota kembang ini sudah habis, amanah menuntut ilmu dunia telah usai. tetapi tidak dengan menuntut ilmu syari. aku masih merindukan, aku belom bisa move on dari majelis ilmu disini. hingga akhirnya setelah aku pindah, aku masih terus melanjutkan mahad pekanan dikota kembang ini dengan pergi tiap pekan diantar adek.

Hal demikian kiranya tidak terlepas dari pertolongan Allah, sehingga dimudahkan urusannya untuk menuntut ilmu syari.

Dan kini aku diamanahi untuk menjadi seorang pendidik di salahsatu mahad salaf dikota kecilku ini. alhamdulillah banyak pula kajian kitab rutin yang diadakan disini. tetapi kebanyakan berlangsung pada malam hari, namun karena jarak yang cukup dekat dengan rumah maka aku tetap menghadiri selama berusaha menjaga dari berbagai macam fitnah.

Di Ma’had Al Bashiirah ini memang dikhususkan untuk bahasa arab. sehingga sangat diberi kemudahan untuk para ikhwan. Karena disini adanya kelas takhosus untuk ikhwan. tetapi kajian kitab pun tidak kalah semarah, meskipun dikota yang kecil ini. ada pembahasan kitab riyadhus shalihin, ushul tsalatsah, pilar pilar menuntut ilmu oleh Al ustadz Ahmad Tonarih hafidzahullahu ta’ala. kitab Al wajiz oleh Abu ammar hafidzahullahu ta’ala. tahsin oleh ustadz Abu Faiz hafidzahullahu ta’ala. kajian kitab tazkiyatun nafs oleh ust. Abu Islama hafidzahullahu ta’ala. serta kajian kajian rutin lain yang dikhususkan untuk ikhwan.

Masyaa allah betapa bersyukurnya diri ini  karena dikota kecilku ini semarak juga kajian kitab. Semoga kajian dikota kota kecil semakin semarak, dan para penuntu ilmu semakin berminat menghadiri kajian kitab bukan hanya kajian tematik saja.

Lagi lagi aku dibuat semakin cinta
dengan manhaj salaf ini, 
pembahasan yang   ilmiah, terstruktur, 
pendekatan yang inteketual serta manisnya
hidayah ini yang tak henti hentinya
kupinta pada Allah
بنت جو هري
Posted in Goresan

Nikah vs Visioner

Silaturahmi merupakan jalan pembuka rezeky, selain itu banyak kisah yang akan menjadi pembelajaran. Sore itu saya mendapat banyak pelajaran hidup, dan memang selalu demikian tatkal berkunjung ke kediaman sahabat saya yg sudah menjadi seorang ibu. Kekaguman saya padanya tak habis semenjak berkenalan saat Orientasi Mahasiswa 4 tahun silam hingga kini telah menjadi Sarjana Muda plus Ibu Muda yg dikaruniakan seorang babby yg lucu, serta suami yg setia mendampingi melewati masa masa sulit perkuliahan. ^^ saya panggi ia ibu, karena terbiasa sambil mengajari babby nya.

Kepadanya lah saya sering meminta pendapat, terutama untuk masalah pendamping hidup selain semua itu atas kemantapan hati saya atas jalan yg Allah berikan.
Kali ini berbeda, ibu tetiba membuka obrolan ketika kami sedang asyik memasak di dapur.
Mencari pendamping hidup itu bukan seperti membeli baju di online, mungkin begitu yg saya tangkap. Intinya memilih pendamping hidup itu kita harus selektif, bukan karena setumpuk kriteria, kemudian kau memilih pinangan dari seorang pria yg bahkan kau tak tau bagaimana perlakuannya dimata keluarganya. Mencari pendamping hidup disini bukan hanya sekedar menyejukkan dan euforia pesta pernikahan yg waw. Tetapi lebih difokuskan pada, apakah benar yg kau terima pinangannya ini adalah yg memiliki akhlak yg baik, seorang yg berilmu dan bisa membimbing serta mendidik kita, adab dan akhlak kepada orangtuanya terpercaya, muamalah dengan teman temannya baik, mampu mengayomi kita selaku kaum wanita yg bermain dengan air mata, mampu menguatkan kesedihan kita dengan logika serta sikap qa’naah nya.

Begitulah yg saya tangkap, seketika saya berdiam diri berpikir keras semoga kelak pria yg saya terima pinangannya adalah orang yg tepat.
Cerita pun mengalir hingga pada studi kasus.

1. bagaimana jika akhlak seorang pria sangat baik terhadap orangtuanya, tetapi orangtuanya lalai terhadap perintahNya. Dalam hal ini siapa yg disalahkan?
Mungkin baiknya dakwahi orangtua dengan lembut, jangan pernah lepas mendoakan mereka dari nikmat hidayahNya karena Allah lah yg Maha Membolakbalikkan hati manusia. Intinya adanya kemauan keras dari pria ini untuk membimbing orangtuanya, dan kami selaku perempuan mesti sanggup sabar ikut membantu.
2. Apakah pendidikan formal menjadi takaran?
Menjadi seorang pria memang perlu berpendidikan tinggi, agar mampu membimbing dan mendidik istrinya, karena istrinya adalah ladang pahala untuknya. Tidak menjadi pertimbangan tinggi, terpenting ada kemauan keras menuntut ilmu, baik formal maupun non formal.
3. Bagaimana jika pria yg meminang kita memiliki profesi yang strata nya jauh tinggi dari wanita? Apakah pantas memiliki rasa minder?
Tidak masalah, jika pria pendidikannya lebih tinggi karena peran mereka kelak menjadi imam yg harus berwawasan tinggi minimal bisa memberikan jalan tengah ketika dihadapakan dalam permasalahan. Tetapi bukan berarti sebagai seorang wanita stuck lantas malas belajar lagi. Tidak lah baik memiliki rasa minder karena salah satu kecantikan wanita adalah tidak mudah menyerah, jangalah minder hatusnya ini menjadi tantangan tersendiri untuk wanita tersebut bagaimana memantaskan diri mendampingi pria yg memiliki profesi lebih tinggi dari wanita, (sepertihalnya ibu, ibu tak menyerah ingin melanjutkan pendidikan minimal ingin setara dengan bapa).
4. Bagaimana jika ada pinangan seorang pria yg kita tak tahu latarbelakangnya?
Minimal kita harus tau backgroundnya, minimal tahu dari yang men’taaruf’kannya bahkan lebih baik jika memang kita mengenal keluarganya atau semacam teman lama. Hal demikian memudahkan kita muamalah dengan keluarganya, jikalau kelak setelah menikah ada permasalahan maka jelaslah ibu dr pria itu lah tempat kita bertanya bagaimana memahami anak lelaki kesayangannya itu.

Sekelumit pertanyaan mengalir begitu saja, dari pertanyaan simple hingga rumit. Urgensi nikah bukan semata terpancing teman teman sudah menikah, tetapi fokuskanlah bahwa dengannya lah kau menuju surga Allah, menyatukan 2 keluarga adalah tantangannya maka dari itu menikah bukanlah menyatukan 2 hati yg sudah lama bersua dalam doa tetapi juga menyatukan 2 keluarga, dan harus visioner.

Ibu Aden Al Fatih dan aku

latepost 2014

بنت جو هري