Posted in Goresan

Nikah vs Visioner

Silaturahmi merupakan jalan pembuka rezeky, selain itu banyak kisah yang akan menjadi pembelajaran. Sore itu saya mendapat banyak pelajaran hidup, dan memang selalu demikian tatkal berkunjung ke kediaman sahabat saya yg sudah menjadi seorang ibu. Kekaguman saya padanya tak habis semenjak berkenalan saat Orientasi Mahasiswa 4 tahun silam hingga kini telah menjadi Sarjana Muda plus Ibu Muda yg dikaruniakan seorang babby yg lucu, serta suami yg setia mendampingi melewati masa masa sulit perkuliahan. ^^ saya panggi ia ibu, karena terbiasa sambil mengajari babby nya.

Kepadanya lah saya sering meminta pendapat, terutama untuk masalah pendamping hidup selain semua itu atas kemantapan hati saya atas jalan yg Allah berikan.
Kali ini berbeda, ibu tetiba membuka obrolan ketika kami sedang asyik memasak di dapur.
Mencari pendamping hidup itu bukan seperti membeli baju di online, mungkin begitu yg saya tangkap. Intinya memilih pendamping hidup itu kita harus selektif, bukan karena setumpuk kriteria, kemudian kau memilih pinangan dari seorang pria yg bahkan kau tak tau bagaimana perlakuannya dimata keluarganya. Mencari pendamping hidup disini bukan hanya sekedar menyejukkan dan euforia pesta pernikahan yg waw. Tetapi lebih difokuskan pada, apakah benar yg kau terima pinangannya ini adalah yg memiliki akhlak yg baik, seorang yg berilmu dan bisa membimbing serta mendidik kita, adab dan akhlak kepada orangtuanya terpercaya, muamalah dengan teman temannya baik, mampu mengayomi kita selaku kaum wanita yg bermain dengan air mata, mampu menguatkan kesedihan kita dengan logika serta sikap qa’naah nya.

Begitulah yg saya tangkap, seketika saya berdiam diri berpikir keras semoga kelak pria yg saya terima pinangannya adalah orang yg tepat.
Cerita pun mengalir hingga pada studi kasus.

1. bagaimana jika akhlak seorang pria sangat baik terhadap orangtuanya, tetapi orangtuanya lalai terhadap perintahNya. Dalam hal ini siapa yg disalahkan?
Mungkin baiknya dakwahi orangtua dengan lembut, jangan pernah lepas mendoakan mereka dari nikmat hidayahNya karena Allah lah yg Maha Membolakbalikkan hati manusia. Intinya adanya kemauan keras dari pria ini untuk membimbing orangtuanya, dan kami selaku perempuan mesti sanggup sabar ikut membantu.
2. Apakah pendidikan formal menjadi takaran?
Menjadi seorang pria memang perlu berpendidikan tinggi, agar mampu membimbing dan mendidik istrinya, karena istrinya adalah ladang pahala untuknya. Tidak menjadi pertimbangan tinggi, terpenting ada kemauan keras menuntut ilmu, baik formal maupun non formal.
3. Bagaimana jika pria yg meminang kita memiliki profesi yang strata nya jauh tinggi dari wanita? Apakah pantas memiliki rasa minder?
Tidak masalah, jika pria pendidikannya lebih tinggi karena peran mereka kelak menjadi imam yg harus berwawasan tinggi minimal bisa memberikan jalan tengah ketika dihadapakan dalam permasalahan. Tetapi bukan berarti sebagai seorang wanita stuck lantas malas belajar lagi. Tidak lah baik memiliki rasa minder karena salah satu kecantikan wanita adalah tidak mudah menyerah, jangalah minder hatusnya ini menjadi tantangan tersendiri untuk wanita tersebut bagaimana memantaskan diri mendampingi pria yg memiliki profesi lebih tinggi dari wanita, (sepertihalnya ibu, ibu tak menyerah ingin melanjutkan pendidikan minimal ingin setara dengan bapa).
4. Bagaimana jika ada pinangan seorang pria yg kita tak tahu latarbelakangnya?
Minimal kita harus tau backgroundnya, minimal tahu dari yang men’taaruf’kannya bahkan lebih baik jika memang kita mengenal keluarganya atau semacam teman lama. Hal demikian memudahkan kita muamalah dengan keluarganya, jikalau kelak setelah menikah ada permasalahan maka jelaslah ibu dr pria itu lah tempat kita bertanya bagaimana memahami anak lelaki kesayangannya itu.

Sekelumit pertanyaan mengalir begitu saja, dari pertanyaan simple hingga rumit. Urgensi nikah bukan semata terpancing teman teman sudah menikah, tetapi fokuskanlah bahwa dengannya lah kau menuju surga Allah, menyatukan 2 keluarga adalah tantangannya maka dari itu menikah bukanlah menyatukan 2 hati yg sudah lama bersua dalam doa tetapi juga menyatukan 2 keluarga, dan harus visioner.

Ibu Aden Al Fatih dan aku

latepost 2014

بنت جو هري