Tentang Kematian

kapan giliranku? 

aku mengingat namun kadang enggan untuk bersegera memperbaiki diri. 

jika kelak aku tiada, urusi jenazahku dengan cara cara yang sesuai syariat ya.tutupilah auratku serta aib aibku, maafkanlah kesalahanlu jika melukai hati mu. semoga jannahNya menjadi tempat kita semua. 

***

Aku memiliki seorang murid bernama Annisa, dari pertama test masuk aku sudah begitu kamu padanya. parasnya yang cantik serta kesopanan yang menghiasi dirinya. belum lagi ternyata akhlak dan akademiknya sangat mumtazah. 

aku menjadi guru halaqoh nya, setiap pagi kami selalu bertukar cerita dan motivasi dalam menambah hapalan dan lainnya. bukan sekedar aku yang memotivasi, jelas sosoknya lah yang berhasil memotivasiku. 

ia mempunyai hapalan sendiri bekal dsri rumahnya, selain dari hasil talqin disekolah. aku berikan kesempatan ia untuk setoran hapalan rumahnya. ia selalu menghapiriku disela sela jam ishoma untuk setor 2-3 ayat perhari nya. bahkan kalo aku lupa untuk menyimak, ia bersedia menambah hapalan untuk di setor esok paginya. aku tanya,

“nisa, dirumah murojaah dengan siapa?”

“sendiri bu, kan bunda sakit”.

“oiya syafahallah aamiin”.

hingga saat ia semakin semangat hapalan aku berniat untuk memberikan dia mushaf untuk menemani nya hapalan. alhamdulillah mushaf nya tak pernah lepas ia bawa bahkan di jam istirahat. meskipun ia seperti santri pada umumnya yang senang bermain, tapi ia sosok yg lebih dewasa dr teman2nya. bahkan bukan sekali saja ia mengingatkan temen2nya kalo bising di kelas. barakallahu fiiha annisa.

hari itu halaqoh siang aku ganti jadwal murojaah dengan membacakan siroh nabawiyyah, bercerita tentang Nabi, shohabat, shohabiyyah maupun kisah para ulama. saat itu aku menceritakan tentang kegigihan Asma’ binti Abu Bakar yang memiliki anak bernama Urwah bin Zubeir.

ia begitu antusias dalam mendengarkan kisah. tiba pada paragraf bahwa urwah kakinya diamputasi dan dalam waktu bersamaan anaknya urwan meninggal. saat itu aku bilang. 

“taatlah kepada allah, berbaktilah kepada orangtua. perbanyaklah bersyukur karena kita masih memiliki tubuh yang lengkap, masih memiliki orangtua yang lengkap. karena orangtua adalah jalan tengah menuju surga, doa mereka insyaallah mustajab.”

“bu guru bunda aku lagi sakit dan dirawat dirumah sakit.”

“ohiyaya nis, syafahallahu laa ba’sa thohurun insyaallah.”

kemudia seraya anak anak akhawat lain ikut melafadzkan doa untuk yang sakit.

aku tau ada raut kesedihan yang nampak dari nisa, semenjak halaqoh pagi nisa terus mendekatiku dan bercerita tentang bundanya, tentang ayah, kakak dan adiknya. aku berpesan. 

“nisa harus jadi anak sholihah, pintar ya nak. biar bunda seneng. hapalanya terus ditambah dan dimurojaah biar bisa jadi penyelamat buat bunda juga ayah kelak.”

“iya bu. tadi pagi aku berdua aja dirumah sama kakak. karena ayah sama adek diem dirumah sakit. ”

“iya sayang, doakan bunda ya. hati2 dirumahnya ya.”

2 hari setelahnya aku mendapati kabar bahwa Ummu Annisa sedang kritis. dan seketika aku lemas dan mengumumkan kepada teman2nya nisa agar bantu doa. dan pada malam harinya saat kajian kitab al wajiz beberapa ummahat menjenguk kesana alhamdulillah menurut kabar kondisinya sudah sadar, tetapi sulit berbicara dan tidak mengingat beberapa hal. 

***

ahad kemarin sepulang tabligh akbar aku sempatkan untuk menjenguk ke RS. beliau ditempatkan diruangan isolasi dimana berdampingan dengan forensik. sepanjang jalan di lorong RS yang sepi aku terus berharap ummu nisa bisa sehat atas izinnya.

kemudian masuklah kami ke ruang isolasi, dimana semua pasien diruangan itu memiliki penyakit yang sama. diagnosa penyakit paru paru. dan aku dibuat sedih tatkala bertemu ummu nisa untuk pertama kalinya. dan aku mengenalkan diri sembari mendoakan beliau. kemudian aku bercerita bahwa nisa anak sholihah, pintar dan membanggakan. beliau sempat tersenyum.kemudian dengan terbata bata beliau berkata,

“terimakasih bu guru sudah mengajarkan nisa selama ini”

dalam hatiku aku yang harusnya banyak belajar dari umm, karena dalam kondisi sakit ummu bisa mendidik anak seperti nisa. kacamata sudah berembun karena menahan airmata, sedih, dan jadi bahan renungan. dimana saat itu aku berada diantara pasien pasien dengan kondisi yang lemah, para pasien pasrah dengan penyakitnya, berada diruangan isolasi yang rawan infecius. saat itu saya berhasil nangis ketika pasien didepan saya bercerita kepada anaknya dengan nafas yang tersenggal senggal, 

“ituu.. pasien yang dikasur sebelah sana semalem meninggal”.

bagaimana mungkin hati tak teriris melihat satu persatu dihadapan kita meninggal. dengan kondisi penyakit yang tak jauh berbeda. 

apa yang menghalangimu untuk bersyukur dalam kondisi baik dari Allah ini?

kemudian kami pamit pulang, karena tidak mungkin berlama disana. dan aku berharao kelak bisa bertemu ummu nisa dalam keadaan sehat, dan aku akan girang bercerita tentang kondisi nisa disekolah.

kemudian senin pagi tadi, aku dibuat senang karena hari ini nisa masuk sekolah untuk mengikuti UTS. selama dikelas saat nisa selesai mengerjakan soal, aku bercerita tentang pertemuanku dengan bunda nya kemarin. 

“bunda seneng, nisa jd anak sholihah. jaga diri ya sayang, jadi anak sholihah.”

“iya bu nanti aku juga mau ke bunda lagi.”

kemudian kami pulang..

***

menjelang magrib aku dapat kabar dsri yayasan kalau Ummu Annisa telah meninggal. saya menangis dan ikut tersayat hatinya

إنا لله وإنا إليه راجعون

اللهم اغفر لها وارحمها وعافها واعْف عنها

ummu, rasa sakitmu kini telah diangkat oleh Allah. semoga jadi penggugur dosa untukmu. dan engkau ditempatkan di surga Allah aamiin.

kemarin adalah kali pertama dan terakhir kita bertemu. insyaallah Annisa akan tumbuh menjadi akhawat sholihah yang bisa menjadi pemberat amal bunda nya aamiin. 

***

aku ingin bertemu nisa, ingin memeluknya erat. ingin selalu memotivasimu nak, jangan takut jangan merasa sendiri sayang. karena ada allah yang membersamaimu, dan insyaallah buguru selalu setia menjadi teman berceritamu dan teman menyimak hapalanmu nak. 

dan betul bahwa kematian sangat dekat, bahwa sebaik baik nasihat adalah kematian. maka dari itu perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan yakni kematian. 

Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

«أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ»

“Perbanyaklah mengingat pemutus kledzatan (kematian)” (HR An-Nasai dan dinilai oleh Syaikh Al-Albani : Hasan Shahih)

Sebagian ulama berkata :

من أكثر ذكر الموت أكرم بثلاثةٍ: تعجيل التوبة، وقناعة القلب، والنشاط في العبادة. ومن نسيه عوقب بثلاثة أشياء: تسويف التوبة وعدم الرضا بالكفاف، والتكاسل في العبادة.

Barang siapa banyak mengingat kematian maka ia akan dimuliakan dengan tiga perkara : (1) selalu bersegera bertaubat, (2) hati yang qona’ah/nerimo, dan (3) semangat dan rajin beribadah. Dan barang siapa yang melupakan kematian maka ia akan dihukum dengan tiga perkara : (1) menunda-nunda taubat, (2) tidak rido dengan pemberian Allah, dan (3) malas dalam beribadah

*)source :https://www.firanda.com/index.php/artikel/status-facebook/633-tiga-keutamaan-mengingat-mati

Cikampek, 20 maret 2017

dalam keadaan berduka

بنت جو هري

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Powered by WordPress.com.

Up ↑

S.J Wanders

The passionate odyssey of a slave.

karena bahagia itu sederhana...

Allah Owns Your Happiness, So Dont look it Far From Him

Dewi Nur Aisyah

Sejernih cita, Sebening asa, Merajut cerita

Catatan Kecil

Menulis, Cara Sederhana Mengikat Makna

This Dunya is a Journey, not a Destination

Menulislah, suaramu takkan padam ditelan angin, abadi, sampai jauh di kemudian hari. [Pramoedya Ananta Toer]

MuslimAfiyah

Sehat Jiwa dan Raga Bersama Islam

amiradhana سلسبيلا

Just be yourself. people like you better that way. Best of all, there is no drama. ❤️

RUMAH MUNGIL

.....هذا سهل! اصبري ~ Bergerak di balik layar

apa tujuan hidup ?

menghayati kehidupan didunia fana

CyberSister

Bukan tempat curhat belaka

المطر في الشفق

“Dan Dialah Yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya” (Asy Syuura: 28)

اتق الله حيثما كنت

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ

%d bloggers like this: